Baru saja kita memperingati isra’ mi’roj Nabi
Muhammad SAW yang kita peringati setahun sekali pada 27 rajab. Mungkin perlu
diketahui bersama pengertian dari isra’ mi’raj, Isra’ Mi’raj berasal dari dua
kata yaitu: Isra’ dan Mi’raj. Isra’ berarti perjalanan malam (perjalanan dari
Masjidil Haram ke masjidil Aqsa) dan Mi’raj berarti naik ke langit.isra’ mi’raj
merupakan dua peristiwa yang berbeda.
Isra’ mi’raj merupakan kejadian yang fenomenal
dimana dua perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW di tempuh hanya
satu malam saja sesuatu hal yang tidak bisa di terima oleh akal. Pada peristiwa
ini Nabi Muhammad mendapatkan perintah sholat 50 waktu yang pada akhirnya di
perintahkan 5 waktu karena kemurahan Allah SWT.
Agama ini diturunkan untuk orang-orang yang berakal
tidak mungkin agama ini diturunkan untuk orang yang tidak berakal. Umat islam
adalah agama yang paling mengedepankan akal, ketika umat islam menerima sesuatu
yang diluar akal seperti isra’ mi’raj maka terdoronglah umat islam untuk
mengetahui isra’ mi’raj dari sisi yang lain yang dalam hal ini adalah sains/
ilmu pengetahuan untuk menjawab kejadian isra’ mi’raj yang diluar akal orang
awam ini.
Mari Kita Mencoba Melakukan Pendekatan Melihat Melalui Sains
/ Ilmu Pengetahuan Alam
Pertama kita mulai dengan Teori Annihilasi
Salah satu ‘skenario rekonstruksi’ untuk mengatasi
problem ini adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi
(zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan
dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah
menjadi seberkas cahaya atau sinar gama (Mustofa, 2006:20).
Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir
masih dalam buku yang sama (2006:20), bahwa jika ada partikel proton
dipertemukan dengan antiproton, atau elektron dengan positron sebagai
antielektronnya, maka kedua pasangan partikel tersebut akan lenyap dan
memunculkan dua buah sinar gama, dengan energi masing-masing 0,11 MeV untuk
pasangan elektron dan 938 MeVuntuk pasangan partikel proton.
Sebaliknya, jika ada seberkas sinar Gama yang
memiliki energi sebesar itu dilewatkan medan inti atom, maka tiba-tiba sinar
tersebut lenyap berubah menjadi dua buah pasangan partikel seperti di atas. Hal
ini menunjukan bahwa materi memang bisa berubah menjadi cahaya dengan cara
tertentu, yang disebut sebagai reaksi Annihilasi.
Nah, proses pengubahan materi menjadi cahaya terjadi
sesaat sebelum perjalanan Isra Mi’raj dimulai. Kejadian ini ketika Rasul
disucikan oleh Jibril di dekat sumur zam-zam. Bisa dikatakan jika proses ini
adalah proses operasi hati Muhammad dengan air zam-zam.
Kenapa operasi hati? Bukan otak atau jantung
misalnya? Ya, sebab hati adalah pangkal dari seluruh aktifitas badani. Bahkan
Rasul mengatakan bahwa hati adalah pangkal dari segala aktifitas badani. Jika
baik hatinya, maka baik pula seluruh aktifitas badannya. Begitu juga sebaliknya
jika buruk hatinya, maka buruk juga segala aktifitas badaniahnya.
Bahkan, resonansi dari hati yang baik itulah
kelembutan akan muncul. Bagaikan buluh perindu yang akan menghasilkan suara
merdu ketika ditiup. Kenapa? Karena hati yang lembut bagaikan sebuah tabung
resonansi yang bagus. Getarannya menghasilkan frekuensi yang semakin lama
semakin tinggi. Semakin lembut hati seseorang, semakin tinggi frekuensinya.
Pada frekuensi 10 pangkat 8, maka akan menghasilkan gelombang radio. Dan jika
frekuensinya lebih tinggi misal 10 pangkat 14, maka akan menghasilkan gelombang
cahaya (Mustofa, 2008:153).
Itulah agaknya yang terjadi pada diri Rasulullah
saat ‘dioperasi’ oleh malaikat Jibril di dekat sumur zam-zam. Jibril melakukan
manipulasi terhadap sistem energi menjadi badan cahaya. Dengan kesiapan ini,
Muhammad siap untukdibawa melalui kawalan Jibril dengan mengendarai Buraq
menembus batas langit hingga akhirnya berjumpa dengan Sang Pemilik Cahaya
Abadi.
Catatan ketiga, terdapat dalam kata ‘abdihi,
Hamba-Nya. Hal ini berarti bahwa tidak semua orang secara sembarangan mampu
melakukan perjalanan Isra Mi’raj. Perjalanan fantastis yang hanya bisa
dilakukan oleh manusia yang sudah mencapai tingkatan ‘abdihi, hamba-Nya. Atau
dalam istilah Quraish Shihab sebagai insan kamil.
Catatan keempat, dalam kata laila, malam hari.
Perjalanan spesial ini dilakukan pada malam hari dan bukan siang hari. Kenapa?
Inilah dia bukti kebesaran Tuhan Sang Maha Gagah itu. Ia mengendalikan
perjalanana Isra Mi’raj dengan apik dan sangat canggih. Apalagi alasan logis
mengenai hal itu, bahwa pada siang hari radiasi sinar matahari demikian
kuatnya, sehingga bisa membahayakan badan Nabi Muhammad yang sebenarnya memang
bukan badan cahaya. Badan nabi yang sesungguhnya tentu saja adalah materi.
Perubahan menjadi badan cahaya itu bersifat sementara saja, sesuai kebutuhan
untuk melakukan perjalanan bersama Jibril. Dengan melakukannya pada malam hari,
maka Allah telah menghindarkan Nabi dari interferensi gelombang yang bakal
membahayakan badannya. Suasana malam memberikan kondisi yang baik buat
perjalanan itu (Mustofa, 2006:25).
Sebagai gambaran sederhana, ketika di malam hari
kita menyalakan radio, maka gelombang yang kita tangkap akan jernih dan lebih
mudah dari siang hari. Sebab gelombang radio tersebut tidak mengalami gangguan
terlalu besar yang saling bersinggungan dengan gelombang lainnya. Begitulah
gambaran sederhananya, sebab waktu malam hari adalah waktu yang paling kondusif
untuk perjalanan super spesial demi kelancaran perjalanan ini.
Catatan kelima, terdapat dalam kata minal Masjidil
haram ilal masjidil Aqsha, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Perjalanan
ini dimulai dari mesjid ke mesjid, sebab mesjid adalah bangunan yang memiliki
energi positif. Disanalah orang-orang berusaha untuk menyucikan diri, mendekat,
bahkan merapat kepada Tuhannya. Masing-masing mesjid tersebut ibarat tabung
energi positif bagi perjalanan Nabi.
Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dijadikan sebagai
terminal pemberangkatan dan kedatangan. Hal ini mirip dengan tabung transmitter
dan recieveri, yang dipergunakan dalam proses perubahan badan Nabi Muhammad
dari materi menjadi cahaya jauh lebih mudah. Apalagi proses itu melalui
‘operasi’ lewat pelantara Jibril yang memang makhluk cahaya. Maka semuanya
berjalan dengan lancar sesuai kehendak Allah. Dia-lah yang berkehendak, sedang
Jibril yang melaksanakannya (Mustofa, 2006:28).
Catatan keenam, yakni dalam kata baaraknaa haulahu,
Kami berkahi sekelilingnya. Perjalanan ini adalah perjalanan yang tak lazim.
Oleh karena itu Allah mempersiapkan semua fasilitas dengan keberkahan untuk
menjaga kelancaran perjalanan sekali dalam sepanjang sejarah manusia.
Nah, disinilah pentingnya Allah menjaga lingkungan
sekitar perjalanan Isra Mi’raj agar tidak terjadi hal-hal yang merusak. Sebab,
jika badan Rasul tiba-tiba berubah menjadi ‘badan materi’ lagi saat melakukan
perjalanan berkecepatan tinggi itu, maka badannya bisa terurai menjadi
partikel-partikel kecil sub atomik, tidak beraturan lagi. Untuk itulah,
keberkahan itu selalu ada; di setiap tempat di setiap keadaan, bahkan tak
mengenal tempat, waktu, dan keadaan sekalipun.
Catatan ketujuh, terdapat dalam kata linuriyahu min
ayaayaatina, tanda-tanda kebesaran Allah. Ya, tepat sekali Isra Mi’raj adalah
salah satu tanda kebesaran Allah yang Maha Hebat. Dalam perjalanan itu Rasul
menyaksikan pemandangan yang tidak pernah beliau saksikan sebelumnya. Terutama
ketika melintasi dimensi-dimensi langit yang lebih tinggi pada saat Mi’raj ke
langit ke tujuh. Tanda kebesaran dan keagungan Allah ini terhampar di jagat
raya. Dan dengan tanda-tanda itu, seseorang mukmin bisa melakukan ‘dzikir
sekaligus pikir’ sehingga menghasilkan kedekatan diri kepada Allah Azza wa
Jalla.
Dan kata kunci yang terakhir adalah innahu huwas
samii’ul bashir, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat. Ini adalah
proses penegasan informasi kalimat sebelumnya. Dengan adanya kalimat ini,
seakan-akan Alalh ingin memberikan jaminan kepada kita bahwa apa yang telah Dia
ceritakan dalam ayat ini adalah benar adanya. Kenapa? Karena berita ini datang
dari Allah, Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka tak perlu ada
keraguan tentang kisah fenomenal ini (Mustofa, 2006:41).
Teori
Relativitasnya Albert Enstein
Studi tentang sinar kosmis merupakan satu pembuktian
teori ini. Didapati bahwa di antara partikel-partikel yang dihasilkan dari
persingungan partikel-partikel sinar kosmis yang utama dengan inti-inti atom
Nitrogen dan Oksigen di lapisan Atmosfer atas, jauh ribuan meter di atas
permukaan bumi, yaitu partikel Mu Meson (Muon), itu dapat mencapai permukaan
bumi. Padahal partikel Muon ini mempunyai paruh waktu (half-life) sebesar dua
mikro detik yang artinya dalam dua perjuta detik, setengah dari massa Muon
tersebut akan meleleh menjadi elektron. Dan dalam jangka waktu dua perjuta
detik, satu partikel yang bergerak dengan kecepatan cahaya (± 300.000 km/dt)
sekalipun paling-paling hanya dapat mencapai jarak 600 m. padahal jarak
ketinggian Atmosfer di mana Muon terbentuk, dari permukaan bumi, adalah 20.000
m yang mana dengan kecepatan cahaya hanya dapat dicapai dalam jangka minimal 66
mikro-detik. Lalu, bagaimana Muon dapat melewati kemustahilan itu? Ternyata,
selama bergerak dengan kecepatannya yang tinggi—mendekati kecepatan cahaya,
partikel Muon mengalami efek sebagaimana diterangkan teori Relativitas, yaitu
perlambatan waktu.
Pembuktian selanjutnya terjadi pada tahun 1971, perbedaan waktu (time dilation) di twin
paradox theori tersebut telah dibuktikan melalui “Hafele-Keating-Experiment”
dengan menggunakan 2 buah jam yang berketepatan tinggi (High precision Cesium
Atom clocks) yang di set awal pada waktu yang sama.
Experiment tersebut menghasilkan perbedaan waktu
pada kedua jam tersebut, antara jam yang diletakkan di pesawat Intercontinental
yang bergerak terbang kearah timur / barat dengan jam referensi yang diletakkan
di U.S. Naval Observatory di Washington, waktu jam di pesawat
berkurang/bertambah tergantung dari arah penerbangan.
Twin paradox experiment
Relativ terhadap jam di Naval Observatory, jam
dipesawat berkurang waktu 59+/-10 nanoseconds dalam penerbangan ketimur, dan
mengalami pertambahan waktu 273+/-7 nanosecond pada penerbangan ke barat. Hasil
empiris tersebut membuktikan theori twin paradox dalam tingkatan jam
macroskopik.
Dengan adanya pembuktian pembukatian tersebut,
berarti Albert Einstein dengan teori
relativitasnya secara langsung atau tidak langsung telah membuktikan bahwa
kisah Al Quran tentang kisah
“perjalanan Rasulullah SAW
kelangit ketujuh dan kembali dalam satu malam” adalah benar. Terutama dalam segi dimensi WAKTU, dalam perhitungannya memungkinkan.
Isra’ miraj adalah pijakan ilmu pengetahuan yang di
pelajari manusia. Dari semua teori ilmu pengetahuan sedikit menyingkap kebenaran peristiwa isra mi’raj
tersebut dan sekarang ilmu pengetahuan sains semakin berkembang dan mungkin ilmu
pengetahuan nanti akan mampu membuktikan semua kebenaran mukjizat isra miraj
dan wahyu Al-quran.


Post a Comment